Thursday, July 17, 2014

Kondisi Kehamilan Terkini

Alhamdulillah trimester kedua telah berlalu dengan aman.
Fase bulan ke-4 hingga ke-6 baru saja terlewati dengen melegakan.  Syukur tidak ada hal-hal tertentu yang mengkhawatirkan.  Kalau pun ada lebih kepada nafsu makan yang masih belum terlalu bagus.  Hingga berat badan saya pun tidak begitu melambung.  Total berat badan dari awal hamil hingga akhir TM2 sebanyak 6 kg, masih normal.

Pemasalahan justru datang di awal trimester 3 ini, bulan ke-6 menuju 7, meski bukan masalah yang terlalu berarti .  Khususnya selama bulan Ramadhan, meski saya tidak berpuasa, mungkin kepengaruh suasana puasa "cuma makan sendirian" jadi selera makan makin menurun.  Alhasil USG terakhir sekitar 2 minggu yang lalu bersamaan dengan USG 4 Dimensi berat badan janin saya agak dibawah standar normal.  "Sedikit" sih kekurangannya, tapi bisa kurang baik jika pola makan saya tidak berubah, kata dokter obgyn-nya.  Jujur, memang saya agak kurang konsumsi makan awal-awal puasa ini.  Maafin Ummi ya Nak!

Paniklah saya dan suami yang sejak awal selalu support istrinya makan banyak.  Meski tinggal berjauhan dan hanya bertemu dua mingguan sekali, tiada henti dia mengingatkan saya untuk menambah porsi dan rutinitas makan.  Ya iya lah, kan bapaknya si baby bala-bala, hehehe...

Saran dokter, saya diminta memperbanyak konsumsi susu yang biasanya bisa menambah berat badan janin juga.  Tanya sana-sini juga rata-rata sarannya memperbanyak minum susu dan es krim.  Hummm...kalau disuruh makan es krim sering-sering sih senang-senang saja.  Hanya saja, kok ya bertepatan dengan saya yang kena flu.  Alhasil saya hanya bisa mengandalkan minum susu, itu pun tidak bisa banyak dan BUKAN susu hamil.  I don't like the taste of susu hamil, bawaannya ujung-ujungnya mual, apa cuma sugesti susu hamil yah?  Solusi saya minum susu full cream yang dikotak biru itu lho yang rasanya agak netral, susu tapi nggak bikin eneg.

Porsi makan belum bisa saya tambah, masih nggak bisa makan banyak sekali makan, nggak suka rasa perut begah.  Tapi saya siasati dengan menambah cemilan setiap 2-3 jam.  Anehnya, kalau nggak hamil, lihat cemilan apapun rasanya menggoda, ini kok ya kebalik yah, meski ada biskuit ini-itu, anke ragam kue dirumah, atau lagi pergi keluar sekalipun dengan aneka rupa makanan berseliweran, tetap aja tidak terlalu bernafsu.  Ngemil pun saya jadikan sekedar "kewajiban", daripada kurang makan.

Alhamdulillah berat badan saya sudah kembali naik.  Jadi sekarang di minggu ke-26 berat badan saya total sudah naik 7 kg-an.  Sebenarnya sih normal, dan di awal-awal justru banyak "lari" untuk janin, cuma karena belakangan ini saja selera agak error jadi dianggap bermasalah.  Mudah-mudahan sekarang dede-nya makan banyak lagi ya dari apa yang dimakan emaknya.  Aamiin.

Ohya hasil periksa USG terakhir kebetulan saya dan suami menjalankan periksa motode 4D, meski tidak diwajibkan, tapi kami penasaran saja "bentuk" calon anak kami meski di usia ini belum terlalu sempurna bentuknya.  Sekalian mengecek kesehatan janin keseluruhan secara detail.  Melalui USG 4D bisa diketahui kesehatan janin hingga se-detail mungkin meski tidak akurat 100%.

Hasilnya alhamdulillah, keseluruhan janin sehat.  Perkembangan dan pembentukan fisik sehat, jantung sehat dengan bilik lengkap, keadaan otak juga bagus, danlainnya juga bagus.  Cuma yang agak kurang itu sedikit berat badannya seperti dijelaskan di atas.

Lucu banget bisa melihat kondisi janin dalam rahim yang sudah berbentuk seperti bayi.  Mata, telinga, hidung, bibir dan bagian tubuh lainnya sudah terlihat dengan sempurna.  ALLAHU AKBAR! Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya menciptakan manusia sedemikian indah.  Haru? Jangan tanya, kalau nggak mikir dihadapan ada dokter mah saya mungkin sudah nangis bombay sangking harunya.  Maklum lah, 6 tahun tahun bow menantikan hal ini.  Masya Allah, melihat bibirnya gerak-gerak, jarinya menggenggam, duh makin nggak sabar menanti kelahiran di atas usia 9 bulan nanti.

Semoga, kondisi sehat ini terus menjadi bagian proses kehamilan hingga masa persalinan nanti pun dimudahkan dan dilancarkan Allah ta'ala, aamiin allahumma aamiin.

Next...saya dan suami ada rencana pindah dokter dan rumah sakit yang lebih dekat rumah.  Masih dalam pertimbangan.  Keputusannya dilaporkan di posting-an berikutnya insya Allah.

Wassalam
JeungRirie-Ummi wanna be

Sunday, June 29, 2014

Ramadhan kali ini

Tahun ini saya tidak menunaikan ibadah puasa seperti muslimin pada umumnya.  Kalaupun puasa tidak akan secara penuh sebulan lamanya.  Bulan karena haid atau mentruasi, tapi dikarenakan saya tengah hamil anak pertama saya dan suami, insyaa Allah.

Alasan medis dan hukum agama yang menjadi landasan saya memutuskan untuk tidak berpuasa. Dalam Islam wanita hamil dan menyusui diberikan kemudahan untuk tidak berpuasa. Tinggal nanti di bulan lain diganti dengan membayar fidyah atau meng-qadha puasanya.  Sementara alasan medis, mengingat ini kehamilan yang dinanti-nanti dengan masa tunggu 6 tahun lamanya, kondisi tubuh dan kebutuhan janin, maka untuk meminimalisir kemungkinan kurang baik akibat kurang asupan makanan & gizi, maka saya putuskan memang untuk tidak menjalankan puasa.

Namun, absen dari puasa fisik (makan & minum),  insyaa Allah tidak absen dari puasa hati. Berusaha meningkatkan kualitas ibadah selayaknya orang berpuasa, berusaha menjaga hati, lisan dan laku, ikhlas kRena Allah Ta'ala.   Semoga tidak mengurangi esensi beribadah pada Allah Ta'ala khususnya di bulan nan suci ini. Aamiin allahumma aamiin.

So...bagaimana rutinitas aktifitas ibadah selama bulan Ramadhan mu? Sudah direncanakan dengan matang? ;)


Wassalam
JeungRirie

Saturday, June 28, 2014

ketika disentil cobaan berbuah hikmah

Qadarallah, menjelang Ramadhan dikunjungi beberapa cobaan kecil.

Setiap ujian pasti ada sayatan di hati, meski itu sedikit. Itu karena kita selalu menilai hal yang terjadi pada kita secara versi kita, mausia yang kadang sok tahu. Hanya mengharap apa yang diinginkan, padahal belum tentu yang kita butuhkan. Bisa jadi justru ujian itu lah yang baik untuk kita. Seperti yang Allah firmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 286.

Bersandar pada firman-Nya itu lah, maka saat cobaan datang seperti kemarin (apalagi hanya cobaan kecil bin minim), chuznudzon bahwa itu adalah cara baik Allah yang ditakdirkan-Nya bagi bagi kami. Bersyukur, bisa jadi itu cara Allah agar di bulan Ramadhan ini kami senantiasa berpelukan dengan-Nya.  Semakin "eksis" mendekatkan diri pada-Nya.

Dan...semakin mengakarkan arti ikhlas. indahnya...

Wassalam


Tuesday, June 10, 2014

Hijab Fisik dulu atau Hijab Hati dulu?


Mana yang lebih dulu perlu dijalani, mana yang lebih penting dan mana yang diutamakan oleh Allah dan dicontohkan Rasulullah?

Saya coba bahas sedikit dari sudut pandang saya. 
Hijab fisik :
menutup aurat sebagaimana di atur dalam Al-Quran & Hadist.  Pakai kerudung dan pakai jilbab, hanya wajah dan telapak tangan yang terlihat.

Hijab hati :
berahlak mulia, berperilaku terpuji (gitu bukan sih maksud jilbab hati yang didengungkan orang-orang?).

Hijab fisik itu adalah WAJIB.  Ini mah jelas sekali di firmankan Allah dalam Al-quran dan dijelaskan Rasul dalam hadist-hadistnya.  Jadi, tidak ada tawar menawar soal hukumnya.  Titik, tanpa koma.

Nah soal hijab hati?  Ya kalau maksudnya menjadi insan atau hamba-Nya sebaik-baiknya tentu juga wajib.  Secara garis besar (mungkin) maksud hijab hati adalah menjadi hamba yang bertakwa dan berahlak baik.  Dan, perihal bertakwa dan berahlak baik sesuai salah satu hadist berikut adalah kewajiban.

Abu Dzar Jundud bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu'adz bin Jabal ra. menerangkan Rasulullah saw bersabda :

“Bertaqwalah kepada Allah di manapun kalian berada. Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.”

(HR. Tirmidzi dan ia berkata : Ini adalah hadits hasan. Dan di sebagain kitab disebutkan sebagai hadits hasan shahih)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits :
1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shalih.
2. Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
3. Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.
4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.

Jadi…hijab fisik dan hijab hati adalah dua hal yang berbeda namun sama-sama sebagai bentuk ibadah dan ketakwaan pada Allah ta’ala.   Meng-hijab tubuh adalah bentuk takwa sama Allah Ta’ala.  Hijab hati (berahlak mulia) pun bentuk takwa sama Allah.  Sama-sama hal yang diwajibkan.

Tidak ada didahulukan harus seiring sejalan.  Tidak ada alasan karena yang satu belum sempurna yang lainnya ditinggalkan.

Mana bisa, hijab fisik nanti dulu, biar hijab hatinya benar dulu.  Percayalah, menjadi hamba sempurna dengan hati yang sebaik mungkin adalah hal sulit bagi manusia.  Yang sudah alim saja masih sering kepleset apalagi yang masih tarap kelas 1 (baca: baru niat).  Yang ada, hijab fisik tidak akan terealisasi karena masih belum sempurna berahlak sebagai manusia.  Wong manusia tempatnya salah.  Ohya satu lagi, taat sama aturan Allah bukankah juga bagian dari insan manusia yang baik?  Manusia yang baik kan juga yang taat sama aturan penciptanya.  Aturan hijab fisik kan aturan yang diwajibkan Allah.

Hijab fisik pun harus diikuti dengan hijab hati, biasanya perilaku dan ahlak akan mengikuti.  Bahasa kerennya, “Malu sama jilbab” kalau berlaku yang tidak pantas.  Tapi, sebagai manusia juga tidak akan sempurna, pasti sulit luput dari dosa.  Minimal dengan berhijab akan menjadi benteng dalam berahlak.

Tapi…masih ada kok sudah berhijab fisik tapi kelakukan tidak lebih baik dari yang belum di hijab”.  YA JANGAN DITIRU! SUDAH TAHU NGGAK BENER KOK DITANGGEPI?  Ambil yang baik (Oh iya ya dia sudah berhijab), tinggalkan yang buruk (Oke, kalau saya berhijab saya tidak mau seperti dia). Sederhana kan?

Masih berlasan hijab hati dulu?

Wassalam
JeungRirie



Ngidam sirup markisa dingin

Selama hamil, pertanyaan paling sering selain usia kehamilan adalah "NGIDAM APA?".  Sebelum saat ini saya suka bingung jawabnya, karena memang tidak ada hal khusus yang menjadi bahan ngidam.  Bahkan tidak makanan juga tidak minuman khusus.  kalaupun ada yang di penegen-in tidak melulu harus makan atau minum itu.

Tapi belakangan ini baru nyadar, pas masuk bulan ke-4 menuju 5, saya suka banget sama minuman sirup markisa, itu pun harus yang dingin ditambah es batu.  Rasanya tuh segeeeer banget.  Baru kali ini sejarahnya beli khusus sirup markisa, biasanya kalaupun punya adalah oleh-oleh dari Medan.



Jadi sudah beberapa minggu ini khususnya siang hari lagi panas-panasnya, setlah makan siang ditutup dengan segelas sirup markisa super dingin.  Biar makin mantab dan bergizi juga suka saya tambahkan potongan buah didalamnya.  Hummm...yummi!

Wassalam
JeungRirie

Pengalaman diserobot dalam berwirausaha

Akhirnya, saya putuskan untuk menuliskan pengalaman saya kali ini dalam berwirausaha.  Harapan semoga hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua yang terjun di dunia usaha meskipun usaha kecil.
Bahwa ada etika dalam berusaha, tidak semua hal dihalakan.  Apalagi kita sebagai umat muslim, ada aturan-aturan yang mesti menjadi panduan dan batasan kita.

Ceritanya, saya bersama kakak saya menjalankan usaha busana muslimah, ada pakaian ada kerudung.  Kurang lebih sudah berjalan 3 tahuan-an.  Mayoritas kami memproduksi sendiri barang-barang dagangan kami sesuai garis desain kami, minat kami dan aturan syariat Islam yang kami yakini.

Bisnis pakaian adalah bisnis yang mengikuti trend terkini, jadi wajar adanya jenis kemiripan dan kesamaan produk antar sesama produsen.  Desain kita bisa saja dijadikan inspirasi produsen lain atau dicontek plek-plek pun adalah hal yang biasa.  Kami juga harus mengikuti perkembangan trend terkini untuk mengembangkan ide-ide desain produk kami.  Kalau mentok sama murni ide sendiri kadang memang kami pun harus menerapkan sistem ATM; Amati, Tiru dan Modifikasi.

Soal "mencontek" bukan hal asing dan salah pada beberapa sisi.  Hanya saja etikanya, mencontek produk orang lain tapi mbok ya di modifikasi lah seminimal-minimalnya, jangan plek-plek banget.  Tapi juga namanya dunia usaha, yah kadang kita memang tidak bisa mengontrol produsen dan pasar.  Tinggal pintar-pintarnya kita menerapkan strategi marketing penjualan.

Nah!  Terkait hal diatas, sekali lagi kalau terjun di dunia usaha, yang namanya jenis produk kita di contek kemudian diproduksi mirip-mirip harus siap dan terima, kecuali kita sudah mendaftarkan hak cipta, ini soal lain.  Tapi kalau di dunia bisnis pakaian, soal desain berhubungan dengan kreatifitas ide dan otak agak susah melibatkan hak cipta.  Jangan kaget jika kemudian kita bisa menemukan, HAH! EDAN! INI SAMA BANGET SAMA PRODUK GUE! Biasa ituuuu.... TAPIIIII kalau kejadiannya sampai seperti yang saya alami, pasti semua memang tidak akan habis pikir.  GELENG-GELENG KEPALA SENDIRI.

Ini kisah NYATA!  Seorang teman yang masih notabene tetangga saya, hanya pernah beli 1 kali jualan kami, itu pun juga karena kepepet sama tenggat waktu berangkat haji yang mepet.  Selebihnya, meski dia tahu banget bahwa kami menyediakan perlengkapan muslimah yang sejenis dia butuhkan (Syar'i item), tapi tak pernah dia membeli satu pun lagi setelah dulu.  Sampai disini sih tidak masalah, mungkin produksi kami bukan selera dia, atau budget dia nggak nyampe',, hehehe...

Keemudian, saya sempat kaget dibuatnya, ternyata dia memakai salah satu kerudung yang menjadi trend mark jualan kami.  Memang kami sebagai pelopor yang memperkenalkan model kerudung tersebut, tapi sekarang sudah mulai ada juga yang memproduksi dan jual selain kami meski belum banyak seperti kerudung umum lainnya.  Pertanyaan saya, Kalau dia memang suka "model kerudung" begitu kenapa dia tidak beli ke saya seperti teman-teman saya lainnya, padahal tinggal telepon atau lompat untuk mampir ke butik yang dekaaat dari rumahnya.  Mencoba positif nih, mungkin dia mau beli yang lebih murah harganya.  tak terlalu ambil pusing awalnya, karena kan kita tidak bisa memaksa pembeli.

Namun akhirnya terjawab sudah MENGAPA oh KENAPA nya, hehehe...
Salah satu jasa rekanan penjahit kami dalam memproduksi gamis dan kerudung melaporkan pada kami bahwa ada seseorang yang mengaku mengenal kami (bahkan dia mengaku dia tetangga kami) minta dibuatkan pula gamis-gamis dan kerudung yang mirip dengan produksi brand kami.  Kacaunya lagi untuk kerudung dia minta dibuatkan sekalian jika produk kami sedang masuk produksi, alias nebeng produksi dengan desain yang SAMA.  Tambahannya lagi, dia minta di-SAMA-kan harganya dengan kami.  Sementara harga yang diberikan untuk kami adalahharga produksi massal bukan pembelian sedikit.  Ya jelas berbeda dong?

"Kalau mau masuk produksi SALIHA, tolong dilebihkan jumlah proudksinya untuk saya sekalian!"==>NEBENG MBAK?
"Harga untuk saya di-SAMAKAN aja dong dengan SALIHA!".
Kata tetangga saya itu.

HAH? Sama!  Saya pun sama tercengangnya dengan anda yang hanya membaca, apalagi kami yang mengalami.

"Lho kalau mau yang sama kenapa nggak beli sama saliha aja sekalian mbak?", tanya rekanan saya yang sudah kami kenal lama sekali.
"Soalnya ini pesanan orang Bu!", alasan tetangga saya itu.
"Kalau sama persis dengan desain yang dibuat oleh SALIHA saya tidak bisa, kalau mau model lain saja!".

Rekanan kami bukan mengadu domba, bagi kami dia mencoba menjaga amanah customernya yang lebih awal dikenalnya dalam bekerja sama.  Dia menjaga kepercayaan kami, desain yang kami titipkan untuk tidak sembarangan dia berikan ke orang lain.  jangankan ke orang lain, jika itu desain dari kami, dia pribadi saja tidak akan menjual di tokonya.  Jadi dia berharap customer barunya, which is tetangga kami ini, harusnya bisa menilai bahwa rekanan ini amanah orangnya, jadi kalaupun dia mau bekerja sama dia bisa "tenang", desain dan produknya "aman".

Seperti yang saya bahas diatas, kami menyadari, dalam dunia bisnis contek-mencontek itu biasa.  Toh dalam Islam kami meyakini "RIZKI NGGAK AKAN LARI KEMANA" bagi orang-orang yang mau berusaha dan jujur.  Masalahnya, orang ini, tetangga sendiri, kalau mau tinggal pesan ke kami.  Kenapa harus repot bikin sendiri kalau dia bisa tinggal pesan.  Kalaupun untuk dijual lagi ada 3 cara, cara pertama pesan banyak ke kami, lalu akan kami beri harga khusus, cara kedua it's ok lah dengan rekanan kami juga untuk memproduksi barang dia, tapi jangan contek plek plek apalagi sampai nebeng, kreatif lah dengan ide-ide sendiri!  Cara terakhir kalau mau sama persis juga dengan kami, cari lah rekanan penjahit lain, ini lebih beretika.  Masa' iya sih sama tetangga apalagi teman satu jamaah haji serobot begitu.

Akhirnya, saya dan kakak saya serahkan saja sama Allah.  Dalam arti tak perlu kami ributkan dan pusingkan, sekali lagi bahwa rizki sudah diatur Allah masing-masing untuk hambaNya.  Biar saja orang tidak jujur, asalkan kita tetap pada jalur kebenaran.  Bahasa kerennya, kita tidak ambil pusing, mau dicontek, mau diserobot, silahkaaan.  Toh pada akhirnya dia sendiri yang malu dan mempertanggung jawabkannya sama Allah Ta'ala.

Alhamdulillah, rekanan kami amanah, dia tidak mau menerima yang sistem nebeng tadi atau kalaupun tidak nebeng minta dibuatkan desainyang sama persis.  Dia menawarkan untuk bawa desain sendiri atay disamakan dengan desain milik rekanan kami.  Mungkin sudah keburu malu "ketahuan" kami, dia pun memilih mundur.

Jujur, kami tidak masalah produksi kami dicontek, dengan begini syiar kami dalam busana muslimah akan semakin berkembang melalui tangan-tangan orang lain.  Tapi...tentu harusnya ada etika dan aturan.  Tapi kadang manusia tidak peduli, semua dihajar yang penting menguntungkan.

Sekian curhatannya kali ini.  Semoga kami dan kita semua bisa mengambil hikmah dari pelajaran ini.

Wassalam
Jeungririe



Sunday, June 8, 2014

Yuk! Tahsin Tilawah Al-Quran!

Sebagai muslim Al-quran itu adalah sumber hukum utama umat Islam hidup di dunia.  Al-quran yang dianugerahi Allah berbahasa Arab itu sangat diyakini mencakup segala hal aturan kehidupan dan segala ciptaan-Nya.  Untuk itu kita perlu dan harus membaca dan memahaminya.  Apalagi bacaan Al-quran juga kita gunakan dalam bacaan dalam sholat.

Tapi sebelum memaknainya kita pastilah harus bisa membacanya.  Dan bahasa arab itu sangat sensitif, salah penulisan, salah cara membacanya bisa membuat arti dan makna berbeda. Nah, sudah benarkah cara kita membaca Al-quran?

Untuk itu lah dibutuhkan TAHSIN yang artinya memperbaiki, memperindah, mempercantik.  Apa yang di-tahsin?  Tentu saja bukan Al-qurannya.  Al-quran tentu sudah sempurna tidak perlu diperbaiki lagi.  Tahsin adalah pada tilawah (cara kita membaca) Al-quran.  jadi yang perlu kita tingkatkan adalah TAHSIN TILAWAH AL-QURAN, memperbaiki cara kita membaca Al-Quran. 

Sehubungan dengan topik ini, kemarin sahabat saya bercerita bahwa dia menyadari sebagai seorang muslim dia masih jauh dari 'bisa' membaca Al-Quran.  Kalau membaca standar sih dia bisa, tapi berdasar pengakuannya, tajwidnya masih keriting alias tidak beraturan.  Sudah lama pula dia menyadari bahwa dia harus meningkatkan tahsin tilawah Al-Quran.  Hanya saja, pengakuannya pula, sebagai manusia seringkali terbentu oleh masalah waktu yang belum ada.

Sebenarnya bukan tidak ada waktu, tapi belum diprioritaskannya waktu khusus untuk meningkatkan kemahiran membaca Al-quran.  Sibuk & no time akan selalu jadi tameng dan tumbal untuk kita menunda-nunda suatu hal.  Tidak heran akhirnya keinginan baru sekedar di bibir saja.

Lain hal ketika kita bersungguh-sungguh, maka kita akan memprioritaskan waktu kita untuk suatu hal.  Alhamdulillah, sahabat saya ini akhirnya terketuk untuk serius dengan keinginannya.  Justru di saat dia tengah sibuk kembali bergulat dengan dunia kerja, dia memutuskan untuk memperbaiki bacaan Al-qurannya yang jauh dari ilmu tajwid tadi.

Sekarang, dia bersama adik dan keponakannya memanggil guru mengaji khusus guna merealisasikan hal tersebut.  Dua kali dalam seminggu mereka mengkaji ilmu-ilmu tajwid cara membaca Al-Quran dengan benar.  Semakin belajar diakuinya ternyata banyak ilmu yang belum diketahuinya.  InsyaaAllah, semoga dengan terealisasinya kembali belajar ini semakin mahir dalam tilawahnya.  Aamiin allahumma aamiin.

Sekarang...bagaimana dengan kita?;-)

Wassalam
JeungRirie